Nama : Erni Wigati
Npm : 10108714
Kelas : 3KA17
TUGAS : LAPORAN KEGIATAN
LAPORAN KEGIATAN SEMINAR LOKAKARYA DAN JEJARING INTELIJEN PANGAN
Penyakit Akibat Pangan: Bahaya Salmonella spp.
Atas Kerjasama ICD ANTARA, SEAMEO-TROPMED RCCN-UI,
Badan POM dan WHO Jakarta
Jakarta, 6 Januari 2004
Panitia Penyelenggara
ICD / SEAMEO-TROPMED
DAERAH PUSAT GIZI MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA
2004
Laporan SEMINAR DAN LOKAKARYA
Jejaring INTELIJEN Pangan
(LAPORAN DARI SEMINAR DAN WORKSHOP JARINGAN KECERDASAN PADA MAKANAN)
RINGKASAN EKSEKUTIF
Seminar dan lokakarya Makanan Intelijen Jaringan diadakan di Jakarta, 6 Januari, 2004. itu diselenggarakan oleh TROPMED ICD / SEAMEO Regional Center for Community Nutrition, Universitas Indonesia dan didukung oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dan Badan POM (Badan Nasional Pengawasan Obat dan Makanan). Sebanyak sekitar 80 peserta, termasuk sekretariat, berpartisipasi dalam seminar tersebut, sementara 22 peserta berpartisipasi dalam lokakarya ini. Tujuan dari seminar dan lokakarya adalah untuk meningkatkan kesadaran para penanggung jawab terhadap pentingnya hasil penelitian tentang Salmonella spp, untuk menginformasikan dan menyajikan hasil penelitian tentang keamanan pangan khususnya Salmonella spp, untuk mengumpulkan hasil penelitian dari anggota jaringan dalam bentuk abstraksi dan untuk mengembangkan Salmonella-jaringan.
Seminar dan workshop secara resmi dibuka oleh Prof Dr Soemilah Sastroamidjojo, Direktur SEAMEO-TROPMED RCCN-UI. Dalam menyambut pesannya , ia berharap kemauan untuk mengembangkan Salmonella-jaringan yang terkait dengan Salmonella dapat mendukung dan membantu kita untuk mengurangi dan mencegah masalah Salmonellosis khususnya demam tifoid.
Salmonella adalah patogen bawaan makanan yang menyebabkan penyakit manusia di seluruh dunia, dan perlawanan anti-mikroba yang muncul dari strain Salmonella membutuhkan Pendekatan Global (Jan A Speets, WHO). Keamanan pangan penelitian di SEAMEO-RCCN sejak tahun 1994-1997 umumnya memiliki topik utama yang mirip lainnya yaitu tentang referensi mikrobiologic karena bakteri makanan ditanggung masing-masing, Dr Rina Agustina-Ahmad (ICD / SEAMEO-RCCN UI) mencoba mengkompilasi beberapa penelitian tesis hasil serta hasil penelitian staf 'dalam presentasinya. Keamanan pangan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. WHO mendorong negara-negara untuk mengembangkan program integrasi keamanan pangan dan pelaksanaan upaya pencegahan secara sistematis (Winiati Pudji Rahayu, Badan POM). Kejadian demam enterik di Jakarta masih terkait dengan makanan, terutama konsumsi minuman es. kebersihan dan sanitasi yang baik juga berperan dalam transmisi demam enterik di Jakarta (Soegianto Ali, Universitas Atmajaya). Dari penelitian yang dilakukan oleh NAMRU, dapat disimpulkan bahwa insiden tifoid ekstrapolasi nomor / demam enterik adalah 99/105 inhabitans / tahun, lebih rendah dari tahun sebelumnya (Narain Punjabi).
Topik pertemuan berikutnya mengenai zoonosis dan diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran, Bandung pada minggu pertama bulan Juli 2004.
[o] LATAR BELAKANG
Penyakit akibat Pangan (PAP) merupakan Masalah Kesehatan Masyarakat Yang Utama di * Semua Negara, termasuk Indonesia. WHO melaporkan bahwa sebagai gejala Utama Dari PAP, Kematian menyebabkan diare bagi 5 - 10 juta anak balita per tahun di Negara berkembang. Diperkirakan sekitar 70% kasus diare kemungkinan disebabkan oleh Pangan Yang terkontaminasi. Penyakit Demam tifoid disebabkan oleh thypii Salmonella, suatu biota invasif, menyerang Manusia yang masuk melalui saluran pencernaan dan Masuk melalui peredaran darah, yang menjadi salah satu penyebab penyakit pangan utama. Media penularan penyakit ini adalah melalui makanan. Pangan Mentah, Telur, ikan, udang, Daging Ternak, susu, mentega salad, cokelat, gelatin dll adalah beberapa jenis dari pangan yang sering mengandung Salmonella spp. Kebiasaan Hidup Yang Kurang bersih dan dekatnya Kontak antara limbah Manusia dan sumber air minum seringkali menjadi perantara terjadinya Penyebaran penyakit ini.
Berdasarkan survei yang dilakukan WHO, sekitar 15 juta kasus Demam tifoid terjadi per tahun, insidensi per tahun sebesar 0,5% Dari penduduk Dunia. Indonesia melaporkan Angka Kematian akibat Demam tifoid yang cukup Tinggi. Lain halnya pada Negara berkembang, Indonesia memiliki karakteristik perkembangan penduduk yang Tinggi , yang diakibatkan dari meningkatnya urbanisasi, hal ini disebabkan oleh banyaknya daerah kumuh di kota Besar dan pengelolaan limbah Manusia Yang Kurang Baik (antara Manusia dengan limbah udara dan produksi).
Pengetahuan mengenai penyakit akibat Pangan (PAP) di Indonesia regular tidak lepas Dari Hasil penelitian berbagai pihak Yang Peduli terhadap Masalah ini. banyak penelitian mengenai Salmonella spp. dan Salmonellosis Yang dilakukan dan menghasilkan Informasi di lapisan Masyarakat. Namun karena keterbatasan jaringan informasi yang hilang, Sampai Saat ini kasus Bahaya Salmonella spp. dan Demam tifoid Belum banyak diketahui dan menjadi kesadaran Umum, bahkan masih dianggap sebagai hal Yang Bisa dibilang bebas oleh kebanyakan orang.
antara Komunikasi para peneliti lain sebagai pemerhati kasus - kasus PAP, termasuk Salmonella spp. Secara rutin diharapkan dapat meningkatkan kesadaran Masyarakat terhadap Bahaya Demam tifoid, sehingga kasus penyakit ini di Indonesia dapat dicegah.
[o] Komposisi
Lokakarya Komposisi seminar ini adalah:
1. Meningkatkan kepedulian para pemangku kepentingan terhadap pentingnya Hasil-Hasil penelitian mengenai Salmonella spp.
2. Menginformasikan Hasil-Hasil dan mempresentasikan penelitian Tentang keamanan Pangan khususnya Salmonella spp.
3. Mengumpulkan penelitian Hasil para anggota jejaring dalam Bentuk abstrak
4. Salmonella Terbentuk Jaringan-net
[o] PELAKSANAAN KEGIATAN
Selasa, 6 Januari 2004
Tempat
Hotel Acacia, Ruangan Rose 1
Jl. Kramat Raya 73-81, Jakarta 10450
Telp. 021 390 3030
[o] Kepanitiaan
DR. Ir. Siti Muslimatun, MSc
Dr Rina Agustina-Ahmad, MSc
Ir. Dwi Nastiti, MSc
Evi Ermayani, STP
ICD / SEAMEO PROGRAM KOPERASI,
SEAMEO-TROPMED UI RCCN
Kampus UI Salemba Jl. Salemba Raya 4, Jakarta
Telp. 62-21-3913932, 3909205; Fax. 021 391 3933
e-mail: icd@cbn.net.id
[o] JADWAL ACARA
Program acara
08.00 - 09.00 rehat kopi dan Pendaftaran
09.00 - 09.30 Sambutan
09.00 - Sekretariat Jejaring Intelijen Pangan - 09.10
09.10 - 09,20 - UI RCCN Direktur SEAMEO-TROPMED
09,20 - 09.30 - Panitia pelaksana Seminar
09.30 - 12.00 Presentasi & Diskusi
Moderator: Dr Pratiwi Sudarmono, Sp.MK, PhD
09.30 - 09,50 - WHO Penasihat Kesehatan Lingkungan
Ir. Jan A. Speets
Makanan Borne Penyakit dan Bahaya Salmonella: Outlook Global FBD dan WHO Salmonella Surveillance Global Program
09,50 - 10. 10 - SEAMEO TROPMED-UI RCCN
Dr Rina Agustina Ahmad, MSc
Kompilasi kajian "Penyakit Akibat Pangan" SEAMEO-TROPMED 1994-2003
10,10-10,30 - Surveilan Keamanan dan penyuluhan Direktur
Badan POM RI Pangan
Prof Dr Ir. Winiati Pudji Rahayu, MS
Kajian Salmonella sp. pada Pangan
10,30-10,50 - NAMRU
Dr Narain Punjabi, PhD
Beban penyakit Demam tifoid, Serta Salmonelosis Lainnya, berdasarkan Hasil survei pasif di 2 kecamatan Jakarta Utara, Indonesia
10.50 - tifoid Studi Kelompok - - 11,10 Univ. Atmajaya
Dr Soegianto Ali
Faktor risiko untuk demam enterik di Jakarta Timur, Indonesia
11,10-11,50 Diskusi
10,50-12,00-Direktur Kesehatan Masyarakat Veeteriner
Deptan RI
Bovine Spongioform Encephalopathy (BSE) - Dampak terhadap Pembangunan Peternakan ditinjau Dari kebijakan pendidikan nasional
Drh. Bachtiar Moerad
12,00-13,00 Makan Siang
13,00-15,00 Workshop
Moderator Kelompok I: Ir. Siti Muslimatun, PhD
Moderator Kelompok II: Dr Rina Agustina, MSc
Peserta SEMINAR DAN LOKAKARYA (Lampiran 1)
Sambutan Sekretariat Jejaring Intelijen Pangan
Prof DR. Ir. Winiati Pudji Rahayu, MS, Direktur Surveilan dan penyuluhan Keamanan Pangan, Badan POM RI
Assalamu a'laikum Warahmatullah Wabarakatuh
Terimakasih kepada ICD SEAMEO untuk menjadi tuan rumah di Acara Jejaring Keamanan Pangan. Selanjutnya hadirin para tamu yang saya hormati Bapak Jan Speet Dari WHO. Bapak, Ibu Sekalian,
pada kesempatan pagi hari ini, Kita bertemu dalam suatu forum Jejaring Intelijen Pangan. untuk bekerja sama seperti yang telah dijelaskan ,Kita mengetahui Persis bahwa kegiatan intelijen dapat Kita lakukan Bersama-sama untuk mendapatkan Hasil Yang maksimal. Jejaring Intelijen Pangan juga merupakan jejaring keamanan sistem. jejaring disini terdiri dari 3 macam yaitu Yang Pertama daun hijau yang berarti jejaring pangan intelijen. Kemudian jejaring Yang oranye adalah jejaring dan Pengawasan Pangan , kemudian yang terakhir adalah biru yaitu jejaring Pangan untuk keamanan promosi. Kami menganggap bahwa simbol jejaring merupakan cikal bakal jejaring atau suatu paduan aktivitas untuk keamanan Pangan agar Kita dapat bekerja Bersama-sama Secara lebih efisien dan berhasil guna menjaga keamanan pangan sebagai sumber penghidupan. maka dari itu sekarang kita tidak mungkin dapat bekerja Sendiri-Sendiri untuk dapat mengatasi Masalah keamanan Pangan Yang sebegitu besarnya di Indonesia,oleh karena itulah Dibuat jejaring atau Kerjasama sebagai Wadah Kita * Semua untuk dapat saling bekerja sama.
Khususnya untuk Jejaring Intelijen Pangan Memang telah dikembangkan sejak tahun 2001 dan sudah dikembangkan sampai sekarang seperti yang telah ibu Iis sampaikan bahwa untuk Jejaring Intelijen Pangan Kita telah mengadakan workshop dan seminar untuk kesekian kalinya. Target Kami Dari Sekretariat Jejaring Keamanan Pangan pada pertemuan kali ini adalah untuk melakukan pengembangan Bersama seperti Kita ketahui bahwa pada Pertemuan Pertama dan kedua yang dilaksanakan di badan POM, dimana pada Pertemuan Yang Pertama ini badan POM sekaligus ditunjuk sebagai Sekretariat Jejaring Intelijen Pangan. karena disini Kami bekerja di dalam suatu jejaring Yang sama-sama Saja kedududukannya, Jadi untuk aturan standard tidak ada koordinantor tetapi terikat dalam suatu kesekretariatan.
Bapak dan Ibu Sekalian tentunya didalam Pertemuan Kita Yang kedua ini Semoga Hasil-Hasil Diskusi Kita menjadi suatu Landasan Yang berarti bagi kebijakan kemanan Pangan Kita dimasa akan Datang yang Tentunya kegiatan-kegiatan serupa Semoga nantinya Juga dapat bermanfaat atau berkenan bagi ibu , bapak sekalian. untuk pertemuan kali pelaksanaannya akan dilakukan secara bergiliran. Mungkin Saja sebagai Informasi bahwa Universitas Pajajaran di Bandung Sudah bersedia untuk menjadi tuan rumah berikutnya dan Juga di Unibraw Malang juga sudah bersedia untuk menjadi tuan rumah berikutnya.
Topik-topik mendatang, tentunya dapat Kita diskusikan di Acara Penambahan. Bapak dan Ibu Sekalian, kegiatan Jejaring Intelijen Pangan selain mengadakan seminar dan lokakarya pengembangan Juga mengembangkan program-program Bersama antara lain program pangan ,program pemantauan Pangan Yang merupakan kegiatan keamanan. Jadi data-data Yang diperoleh Dari penelitian Lembaga Pengawasan Instansi maupun Perguruan Tinggi dan Lainnya Kita akan kumpulkan, Olah Kita, Kita carikan solusinya dan bagaimana jalan keluarnya untuk kemudian Kita terbitkan dalam Bentuk demo pangan, yang Baru sebagai cikal bakal pengembangan pangan , untuk itu kami mohon doa dan restu Moga-Moga tahun 2004 ini demo tersebut dapat diterbitkan. Kegiatan Lainnya Kita usulkan atau Kita sedang persiapkan selain Dari surat kabar dan Juga demo pangan adalah Kita juga mencoba mengembangkan program website untuk menampung segala Informasi, yang dapat membantu berjalannya program ini tanpa mengesampingkan tujuan apa Yang menjadikan keinginan Bersama Kita tentunya dapat terealisasi Berkat Kerjasama diantara Kita * Semua.
Bapak dan Ibu Sekali Lagi Saya mengajak bapak-bapak dan ibu maupun Yang Hadir Yang Belum berkesempatan Hadir pada kegiatan ini untuk marilah Kita Terus-menerus mengerjakan Bersama bersinergi program pendidikan nasional keamanan Pangan Kita Bersama-sama dan Penambahan kata Sekali Lagi kami mengucapakan unutuk tetap memfokuskan perhatian bapak ibu sekalian kepada program jaring keamanan Pangan Nasional ini .Demikian terimakasih.
Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Sambutan Direktur Jakarta RCCN-UI SEAMEO-TROPMED
Prof Dr Sastroamidjojo Soemilah
Selamat Pagi,
Bapak-bapak, ibu-ibu dan Saudara-Saudara Sekalian terima kasih atas kehadiran Saudara-Saudara pada seminar hari lokakarya Yang bertujuan untuk menginformasikan hasil - hasil penelitian Salmonellosis Tentang Pangan keamanan khususnya.
Penyakit akibat Pangan, tadi ibu Iis sudah mengatakan macam - macam istilah, Pangan akibat penyakit, mungkin ada Lagi istilahnya Makanan Borne Diseases, mungkin Masih Berlaku Juga itu. Jadi Saya kira maksudnya * Semua sama adalah penyakit-penyakit * Semua Yang ditularkan,Yang disebabkan dari pengaruh yang Dibuat oleh bakteri yang sangat mengganggu Kesehatan khususnya terhadap status gizi Masyarakat. Penyakit akibat mikroorganisme ini Masih merupakan Satu faktor dari makanan yang terkontaminasi , sehingga mengakibatkan Demam tifoid khususnya Masalah Yang menjadi pembicaraan fokus hari ini. Mungkin Masalah penyakit Demam tifoid Kita kelompokkan ke dalam masalah lama yang menyebabkan Demam tifoid seperti fakta Yang Sudah Sangat dikenal Sampai kira-kira tahun 70 - an. mengenai Vaksinasi Demam tifoid yang dilakukan Secara periodik dilakukan terhadap * Semua Golongan Masyarakat, pada saat itu vaksinasi dikenal untuk memvaksin, kolera, parathypus dan tiphus. Sekitar tahun 80 - an hal itu tidak dianggap perlu untuk mengadakan vaksinasi Lagi Secara Berkala, tetapi bagi mereka Yang Ingin bepergian ke Luar Negri Sampai pertengahan tahun 80 - an Masih diharuskan mempunyai surat keterangan Sudah mendapat vaksinasi. Ternyata Dari Hasil-Hasil penelitian tahun 90 - an, Demam tifoid Masih Belum Hilang dalam arti menimbulkan masalah di kalangan Masyarakat.
penelitian Tentang Salmonellosis Memang perlu dilakukan Secara Terus-menerus penyakit Salmonellosis merupakan penyakit Yang berakibat Dari Interaksi atara agen, tuan rumah dan Lingkungan. Sedangkan agen, dalam Perombakan mikroorganisme, Juga Hidup dalam Jasad, Jadi Selalu menyesuaikan Diri, mencoba bertahan dilingkungan untuk beradaptasi. Disamping itu, Manusia Indonesia Sendiri Juga berubah di Lingkungan Yang Terus-menerus berubah. Saya kira gejala-gejala, tanda-tanda penyakit Demam tifoid agak berbeda pada tahun 70an Sampai 60an. pada tahun itu, kotoran dan darah menjadi satu gejala umum, terutama pada Golongan sosial Ekonomi rendah. tapi sekarang jarang Sekali terjadi, Jadi dalam hal ini Baik diagnosisnya maupun terapinya, maupun pencegahannya Saya kira disesuaikan Memang Harus mengikuti dan sesuai perubahan mikroorganisme Sendiri, dari segi individunya dan Lingkungan.
Singkatnya Yang Ingin dikemukakan adalah bahwa penelitian Yang dilakukan sekarang Dibuat untuk peningkatan cepatnya Komunikasi dan cepatnya Hasil penelitian yang perlu diperhatikan sehingga seperti yang telah dikemukakan bahwa Komunikasi Antar Peneliti perlu dilakukan Secara rutin supaya Kita khususnya di Indonesia tidak ketinggalan informasi yang ada di Indonesia sehingga tidak dikomunikasikan Sendiri antara Kita Sendiri. dalam kaitannya tadi terdapat beberapa jejaring. Jadi niat untuk Membuat Satu jejaring dalam salmonella Memang Sangat membantu mengurangi Upaya Kita mencegah Masalah salmonellosis khususnya Demam tifoid. sehingga Yang Ingin dikemukakan dan disampaikan kepada Saudara-Saudara yang hadir disini ,Sangat diharapkan agar Komposisi Dari lokakarya dan seminar ini dapat tercapai.
Terimakasih Atas perhatian Saudara-Saudara.
Sambutan Ketua Panitia Seminar dan Lokakarya: Akibat Penyakit Pangan Salmonella spp. Jejaring Intelijen Pangan. Jejaring Kemanan Pangan
Ir. Dwi Nastiti Iswarawanti, MSc
Kepada Yang terhormat:
Pjs. Direktur SEAMEO-TROPMED RCCN-UI, Prof Dr Sastroamidjojo Soemilah.
Penasihat Kesehatan Lingkungan WHO Indonesia, Mr Jaan A. Speets.
Sekretaris Jejaring Keamanan Pangan Yang dijabat Prof Dr Winiati Puji Rahayu, direktur Surveilan dan Promosi Keamanan Pangan BPOM.
Para nara sumber, Serta Panitia Peserta seminar dan lokakarya Pangan jejaring intelijen.
Sangat baik pagi,
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Salam Sejahtera * bagi kita semua.
Puji Syukur Kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan Kesehatan Yang diberikan sehingga Kita dapat meneyelenggarakan kegiatan seminar dan lokakarya Pangan jejaring intelijen.
Kegiatan ini merupakan Pertemuan Pertama Jejaring Keamanan Pangan di akhir tahun 2004. Kami ucapakan selamat tahun baru, Semoga di tahun yang baru ini lebih jejaring dapat mewujudkan visi dan misinya kepada masyarakat.
Acara hari ini merupakan Pertemuan Jejaring Intelijen Pangan Yang ke III. Pertemuan dilaksanakan pada tgl 8 Juli 2003 di Jakarta, Yang ke II tgl 21 Oktober 2003 di Gedung PPOM Jakarta.
Tema Pertemuan kali ini diselenggarakan sebagai peringatan terhadap Bahaya Penyakit Akibat Pangan yang disebabkan oleh Salmonella spp., Dimana topik kali ini merupakan saran Dari anggota jejaring. Berdasarakan survei WHO sekitar 15 juta kasus Demam tifoid yang terjadi per tahun dan Insiden per tahun 0,5% Dari penduduk Dunia. karena itu sangatlah Menarik untuk mengetahui Masalah tifoid di Indonesia.
Harapan Kami terhadap pelaksanaan kegiatan seminar dan lokakarya ini adalah:
* Para penanggung jawab terhadap Kepedulian Hasil-Hasil penelitian samonella dapat peningkat,
* Jejaring Mampu mengumpulkan dan mempresentasikan Hasil penelitian salmonella,
* Terbentuk suatu kegiatan sejalan Bersama MISI intelijen yaitu khususnya surveillan jejaring Tentang salmonella, ditindak lanjuti dan dapat dikomunikasikan.
Seminar dan lokakarya dihadiri 80 Peserta seminar Yang berasal Dari berbagai Direktorat Dari Departemen Kesehatan, Badan POM, Departemen Pertanian, Departemen Perindustrian & Perdagangan, Balai POM, Dinas Kesehatan, Universitas (IPB, Unpad, Unibraw, UGM, Undip, Unej, Unair , SEAMEO UI, Akademi Gizi), Pusat penelitian : penelitian Pusat Kesehatan, Pusat Makanan penelitian, Pusat penelitian Hortikultura, Pusat penelitian Obat dan Makanan, Industri (Unilever, Pangansari Utama) dan Perwakilan FAO, WHO Serta WFP.
Pemugaran Yang telah Kami sampaikan dalam daftar acara, beberapa topik salmonella dan penyakit akibat Pangan Lainnya Yang akan disampaikan pada Acara seminar Dibuat Dari beberapa nara sumber WHO, SEAMEO-TROPMED UI, BPOM, NAMRU, dan Kelompok Studi tifoid Atmajaya.
Penghasilan kena pajak Diskusi seminar, akan dilanjutkan dengan pemberian Informasi mengenai penyakit sapi gila, penyakit Yang Saat ini melanda sapi di AS dan Kanada. Dan bagaimana pemerintah dan Masyarakat Harus menyikapinya. Akan disampaikan Oleh Drh, Bachtiar Moerad, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Deptan RI.
Penghasilan kena pajak ditutupnya seminar, lokakarya Acara akan dilaksanakan, Dimana Peserta akan dibagi menjadi 3 Kelompok kerja jangka pendek. Diharapkan Hasil kerja jangka pendek Kelompok Suami dapat dipublikasikan pada Masyarakat dapat Dibuat dan perlengkapan * Semua Instansi Berlangganan untuk memperbaiki Masalah salmonella khususnya, umumnya Pangan meningkatkan keamanan, sehingga tercapai «Pangan Aman untuk Semua», makanan yang aman bagi seluruh Masyarakat Indonesia.
Akhir kata, Kami mengucapakan terimakasih pada Industry Council untuk pengembangan (ICD), suatu LSM Yang mempunyai status resmi di Bawah WHO, tetap bantuan financial terhadap acara ini.
Kami mohon maklum Bila penyelenggaraan kegiatan ini ada Yang Kurang berkenan. kepada Panitia kami mengucapkan terimakasih atas Partisipasi, kontribusi dan bantuannya kepada para nara sumber, Peserta dan Panitia terutama Yang bekerja di Meja belakang, Tanpa Partisipasi Saudara-saudari Sekalian, komposisi dari kegiatan ini tidak akan tercapai dengan baik.
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Panitia Seminar & Workshop: Jejaring Intelijen Pangan
[o] PRESENTASI RINGKASAN SEMINAR
PENYAKIT DITANGGUNG MAKANAN DAN BAHAYA Salmonella
(Jan A. Ia menjelaskan, Kesehatan Lingkungan Advisor WHO)
Presentasi komponen yang dibagi menjadi 2 topik yaitu: Global Outlook Foodborne Diseases dan WHO Global Salmonella Surveillance Program.
Outlook Global Penyakit Foodborne (FBD)
Foodborne penyakit adalah penyakit yang menular baik atau beracun di alam, yang disebabkan oleh agen yang masuk ke tubuh melalui konsumsi makanan. Makanan penyakit ditanggung tetap bertanggung jawab untuk tingkat tinggi morbiditas dan mortalitas pada populasi umum, dan terutama untuk pada kelompok risiko, seperti bayi dan anak-anak muda, orang tua dan immuno-dikompromikan. Mayor FBD disebabkan oleh mikro-organisme yaitu Salmonellosis, Campylobacter, dan infeksi karena E.coli entero-berdarah, listerosis dan Kolera. Sementara masalah makanan lain keselamatan dari racun, bahan pencemar organik yang persisten di dalam pestisida dan logam. WHO arah dalam keamanan makanan meliputi kegiatan promosi yaitu survei di negara berbasis laboratorium, perluasan jaringan global untuk memantau kontaminasi kimia, memperkuat dasar ilmiah untuk kegiatan keamanan pangan, serangkaian konsultasi ahli untuk menilai keamanan dan aspek gizi makanan genetik.
Salmonella Global Survey (GSS)
GSS adalah Global Jaringan laboratorium dan individu yang terlibat dalam isolasi, identifikasi dan tes resistansi antimikroba Salmonella. GSS didirikan pada tahun 2000. anggota GSS individual dan lembaga yang terlibat dalam pengawasan Salmonella, serotyping, dan tes resistansi anti-mikroba. GSS didukung oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, Denmark Hewan Lembaga-DVI (Kopenhagen), Institut Pasteur (Paris, Perancis), Health Canada (Ottawa, Kanada), Animal Science Group (Belanda), WHO (Jenewa, Swiss) .
Alasan pelaksanaan GSS adalah karena Salmonella adalah patogen bawaan makanan yang menyebabkan penyakit manusia di seluruh dunia, dan perlawanan anti-mikroba yang muncul dari strain Salmonella membutuhkan Pendekatan Global. Tujuan dari WHO GSS adalah mengurangi beban penyakit bawaan makanan oleh: sistem surveilans penyakit bawaan makanan penguatan; meningkatkan kolaborasi antara mikrobiologi; mengembangkan kolaborasi di seluruh disiplin ilmu kesehatan manusia, hewan dan makanan-terkait. GSS program yaitu: Regional Training Program; Elektronik Diskusi Kelompok; Eksternal Sistem Jaminan Mutu (EQAS); Negara databank dan Layanan Referensi. Kekuatan GSS meningkat komunikasi pada Salmonella antara Negara-Epidemiologi-mikrobiologi-Hewan Kesehatan & Kesehatan Manusia sektor, peningkatan kapasitas laboratorium, evaluasi kualitas data (EQAS), dan akses ke data surveilans Salmonella global melalui negara-bank data. Sedangkan kelemahan GSS adalah: kurangnya teknik pengumpulan data standar, ketidakmampuan untuk menjamin akses ke antiserum berkualitas tinggi untuk serotipe Salmonella, dan akses ke disk kurang kualitas untuk menguji kerentanan antimikroba Salmonella untuk institusi GSS. WHO telah beberapa arah masa depan yang memperkuat peran pusat Daerah; termasuk patogen lain dan metode laboratorium, mengevaluasi dampak pada surveilans epidemiologi dan deteksi wabah, penyelidikan dan kemampuan respon; menjelajahi melaksanakan kereta api pendekatan pelatih dan menyediakan platform global / melakukan studi khusus .
Kompilasi Kajian Penyakit Akibat Pangan, SEAMEO-TROPMED
1994-2003
(Rina Agustina-Achmad, ICD / SEAMEO-RCCN Universitas Indonesia)
Artikel Baru Diawali dengan pernyataan FAO / WHO pada Konferensi Internasional Gizi: Dunia deklarasi pada Nutrisi,tahun 1992 yaitu: «makanan Yang memperoleh cukup gizi dan aman adalah masih terkait dengan keberlangsungan hidup Manusia», Maka makanan aman untuk * Semua adalah tanggung jawab Bersama, baik dalam hal pemerintah, industri itu Sendiri.
dalam pengetahuan, pengembangan dan penelitian, ditempatkan sebagai Pembagian tanggung jawab Dari Tiga Komponen di Atas, SEAMEO-TROPMED RCCN bagi pihak yang menyelenggarakan Pelatihan Ahli gizi dan Kepemilikan Modal TOT keamanan pangan di Indonesia dan Asia Tenggara sejak tahun 1993 bekerja sama dalam Artikel Baru ICD / WHO. Selain itu SEAMEO-RCCN Juga mencoba mengintegrasikan Keamanan Pangan dalam Kurikulum salah Satu program Master di bidang Nutrisi, memfasilitasi berbagai workshop keamanan Pangan, dan menajdikan Keamanan Pangan sebagai salah Satu baris penelitian sejak tahun 1994.
Penelitian keamanan pangan di SEAMEO-RCCN sejak tahun 1994 hingga 1997 Secara Garis Besar mempunyai topik Utama Yang serupa yaitu Tentang mikrobiologis tinjauan Pangan akibat penyakit. Studi Tentang cemaran kimiawi pada Pangan dilakukan pada tahun 1998-1999. Sedangkan menurut manajemen penelitian Tentang diare pada tahun 2000-2001. Topik Lainnya Yang berhubungan dengan keamanan pangan yaitu studi penelitian dan kajian pada sistem surveilan FBD. Berikut adalah beberapa Hasil penelitian tersebuat di Atas.
Hasil penelitian Oleh Usfar dkk (MSc mahasiswa 1992-1994) Judul Artikel Baru: «kontaminasi makanan bakteri dan dampaknya terhadap diare dan status gizi anak 6 bulan sampai 2 tahun», tidak menemukan bukti yang kuat antara status nutrisi, beberapa faktor beresiko dan terapi pada diare. Namun demikian, terapi higienis Tetap ditingkatkanpada penelitian daerah (Kelurahan Kapuk, Jakarta Barat).
Oleh penelitian Dao dkk (MSc mahasiswa 1993-1995) Perbandingan Tentang kualitas mikrobiologi makanan yang diambil dari beberapa Tempat Yang berbeda, menunjukkan bahwa makanan jajanan memiliki kualitas mikrobiologis Yang rendah dibanding rumah Tangga dan restoran. Selain itu, Dari Hasil penelitian juga membuktikan, bahwa makanan Yang dihidangkan panas memiliki tingkat cemaran bakteri yang rendah, sedangkan makanan Yang dihidangkan pada suhu rendah memiliki tingkat cemaran bakteri yang tinggi.
Penelitan lain Tentang pemetaan pada kualitas mikrobiologis nasi rames yang dilakukan mahasiswa MSc (1995-1997) yaitu Agus dkk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nasi rames kalio ayam, sayur, santan dan sambal memiliki Batas tertinggi untuk mengandung Aerobic Plate Count (APC) dan koliform yang diijinkan melewati Nilai Batas maksimum . Temuan lain menunjukkan bahwa cemaran akan semakin meningkat Saat nasi rames memiliki kondisi yang buruk. Rekomendasi Dari penelitian ini terutama terapi terhadap penanganan higienis, sanitasi Lingkungan dan distribusi udara merupakan faktor dalam kualitas makanan kaki lima.
Studi Tentang GMF (Genetically Modified Foods) ini merupakan penelitian yang Dibuat oleh Widyastuti dkk (MSc mahasiswa, 2001-2003). penelitian Tentang Persepsi yang berjudul: «Persepsi terhadap GMF antara para ilmuwan di Institut Pertanian Bogor», penelitian tersebut adalah 73,2% Hasil ilmuwan (ilmuwan) di IPB setuju akan GMF dan mereka menunjukkan suatu keinginan untuk mencoba Produk GMF. Saran Dari hal ini adalah subjek untuk Membuat label pada Produk GMF
Selain Mahasiswa, staf SEAMEO-TROPMED Juga melakukan penelitian - penelitian mandiri diluar tesis. Salah Satu contoh penelitian tersebut yaitu: «Penilaian awal surveilans penyakit bawaan makanan di area tertentu dari Indonesia».Komposisi Utama Dari penelitian ini adalah mengidentifikasikan Lembaga,dan sistem aktifitas apa Saja Yang berhubungan dengan sistem survei FBD. Beberapa poin penting dari penelitian ini adalah : disetiap sektor memiliki aktifitas dan Peran Yang berbeda berhubungan dengan FBD Artikel Baru Sepanjang Rantai Pangan; sistem survei Yang telah ada pada lebih pemusatan pelaporan dan pencatatan, Tanpa adanya metode, umpan balik, dan tindakan Yang memadai. Sistem survei Belum dilengkapi perlengkapan untuk mencegah FBD; sistem survei FBD regular tidak ada Yang Khusus tetapi melekat pada sistem survei Terpadu Yang Sudah ada; terdapat berbagai penyusutan pada sumber daya Manusia di masing-masing sektor yang dimiliki; diagnosis pembangunan, FBD sebagai suatu pendekatan yang lebih sindromik (diare dan keracunan makanan). Tim Peneliti memberikan rekomendasi, Jumlah antara: meningkatkan sistem survei dan jejaring survei FBD perlu dibangun untuk mengintegrasikan Peran di masing-masing sektor.
KAJIAN Salmonella sp. PADA Pangan
(Winiati Pudji Rahayu, Surveilan Direktorat Pangan dan penyuluhan Keamanan, BPOM)
Salmonella Masih menjadi penyebab Yang terpenting. Terutama Yang Harus menjadi perhatian adalah enteritidis Salmonella typhimurium dan Salmonella. Bersama-sama Artikel Baru Clostridium botulinum dan E. Coli Sering tercatat pada kasus - kasus penyakit karena Pangan Baik industri maupun di Negara Negara berkembang.
Data Luar Negri yaitu Dari Jepang dan Amerika Serikat menunjukkan kontaminasi Pangan berasal Baik Dari Bahan Pangan nabati maupun hewani. Keracuanan akibat Salmonella Juga terjadi akibat mengkonsumsi Pangan Siap saji. Laporan lain menyebutkan kasus penyebab keracunan adalah Dari Bahan Pangan Yang telah disimpan di lemari Pendingin untuk beberapa hari. Beberapa Korban Bukan disebabkan karena mengkonsumsi Bahan Pangan tersebut tetapi Silang kontaminasi yang Dibuat Dari Tangan pekerja atau alat pengiris Dari perlengkapan untuk mengiris Daging atau keju. Dari data dalam negeri, Salmonella terdapat pada udang beku dan segar, jamu bubuk olahan industri dan jamu gendong, makanan dan jajanan.
Badan POM telah melaksanakan proyek percontohan surveilan Salmonella pada sayur.Komposisi Dari Proyek ini adalah untuk mengevaluasi keberadaan Salmonella dan mutu mikrobiologi pada sayuran segar di tingkat Petani, pedagang sayuran dan olahan ditingkat penjaja makanan Siap saji. Hasil Yang diperoleh menunjukkan rendahnya mutu mikrobiologi dan tingginya Frekuensi Salmonella banyak disebabkan oleh proses penanganan Yang Kurang Baik. Di tingkat pedagang, kontaminasi Salmonella Dari Wadah alat dan Transportasi Yang Kurang memadai merupakan faktor dalam SRB peningkatan Aset. Selain itu Badan POM Juga Membuat Pedoman surveilan Salmonella pada sayuran sebagai Acuan pelaksanaan surveillan Salmonella pada sayuran. Berikut adalah tips untuk menghindari Salmonella,
Pertama: menghindari Silang kontaminasi, menjaga sanitasi alat, Ruang dan kebersihan pekerja kedua: * Semua Pangan Harus dimasak , khususnya pada Daging Harus / olahannya Yang mempunyai ketebalan tertentu. Suhu internal setidaknya selama 15 detik.proses pendinginan Dari 74oC hingga 5oC Harus Sudah dalam jangka waktu 6 jam, dan
Terakhir: Harus dilakukan pemanasan hingga suhu 74oC dalam ruangan.
Keamanan Pangan merupakan SPI Kesehatan Masyarakat Yang Utama. Badan Dunia, baik dalam hal WHO, mendesak Negara-Negara untuk melakukan Integrasi Program Pangan keamanan, Serta mengembangkan dan Implementasi tindakan pencegahan Yang sistematik dan berkelanjutan. Diharapkan Dari kegiatan / Kerjasama ini, penyakit Pangan dapat menurun.
PENDAPATAN PENYAKIT Demam tifoid, Serta JUMLAH SALMONELOSIS, BERDASARKAN HASIL SURVEILAN Pasif DI DUA kecamatan, JAKARTA UTARA, INDONESIA
(Narain Punjabi H, US Naval Medical Research Unit No 2 Jakarta)
pada dasawarsa 1980, Indonesia merupakan salah Satu Dari Negara yang terjangkit Demam tifoid dengan Angka tertinggi yang diperkirakan terdapat 600.000 hingga 1.300.000 kasus Demam tifoid disertai 20.000 Kematian per / tahun. Untuk penyakit-penyakit Demam tifoid, kholera Shigellosis Serta, dilakukan suatu surveilan pasif di dua kecamatan di Jakarta Utara yaitu Kecamatan Koja dan Tanjung Priok.
Komposisi primer Dari penelitian ini adalah untuk mengestimasi Angka Demam enterik Yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi dan A paratyphy Salmonella, dan mengestimasi Angka kejadian Demam enterik berdasarkan Kelompok Umur.Komposisi sekundernya adalah menentukan pola resistensi bakteri terhadap antibiotika untuk Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi. Sedangkan Komposisi tertiernya adalah meningkatkan kapabilitas surveilan dan meningkatkan kemampuan isolasi dan identifikasi Dari laboratorium. meliputi rumah sakit surveilan Lokasi dan puskesmas Yang berada di kecamatan tersebut. Hasil surveilan menunjukkan bahwa Pasien Dari total (21.848 Orang), 52,5% adalah laki-laki.Sedangkan Dari Segi Umur, adalah 72,4% anak-anak (<20 tahun).dalam kurun waktu Agustus 2001 Sampai Juli 2003, Yang diambil sampel Darah Dari 5.775 Pasien, ternyata 348 (6,0%) positif Demam enterik (Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi A.). Bakteri penyebab salmonellosis Yang lain ditemukan total 152.
Yang diperoleh Dari penelitian ini diantarnya adalah ekstrapolasi bahwa Angka Demam tifoid enterik sebesar 99/105 penduduk / tahun, lebih rendah Dari Angka Yang Pernah dilaporkan sebelumnya, tetapi Hasil ini diperoleh dari suatu penelitian surveilan pasif subyek Artikel Baru Yang tak terikat . tidak berarti ada penyusutan jenis dan kelamin kecuali untuk Salmonella spp. karena kasus ini Hanya Satu Yang positif. Salmonella typhi lebih Sering diisolasi (64%) Dari anak-anak dan Dewasa muda (Umur
FAKTOR RISIKO UNTUK DEMAM enterik DI JAKARTA TIMUR, INDONESIA
(Sogianto Ali, Kelompok Studi tifoid - Universitas Atmajaya)
Paratifoid demam tipus masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di negara berkembang, juga di Indonesia. Sebuah kejadian 357-810 per 100.000 penduduk tahun-dilaporkan sebelumnya di Indonesia. Penularan penyakit ini dianggap sebagai makanan yang sebagian besar juga sebagai penyakit yang terbawa air seperti yang dilaporkan oleh beberapa studi. Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan penularan demam enterik dalam suasana perkotaan di Jakarta, Indonesia.
Jatinegara kecamatan di Jakarta Timur dipilih sebagai daerah penelitian. Ada 262,699 penduduk terdaftar tinggal di daerah 10.6 km2. Semua pasien dengan 3 hari demam atau lebih yang datang ke puskesmas 12 peserta, 4 rumah sakit dan 7 penyedia layanan kesehatan swasta adalah darah dikultur dengan sistem bactec aerobik (Becton Dickinson-, USA) gratis. Kasus didefinisikan sebagai budaya positif untuk Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi Seorang pasien. Setiap non-enterik kedua pasien demam (kultur negatif atau positif untuk bakteri lain) terpilih sebagai kontrol demam. Kasus dan kontrol demam menjadi sasaran kunjungan rumah tangga dalam waktu 1 bulan setelah kultur darah. Dipilih secara acak kontrol yang sehat dari masyarakat juga dikunjungi selama masa studi keseluruhan dalam rasio 1:04 untuk kasus. Semua responden yang diwawancarai dengan menggunakan kuesioner standar.
Selama periode penelitian antara kasus 11 Juni 2001 dan Februari 2003 4, 93 (44 vs laki-laki 49 perempuan), 289 (158 vs 131 laki-laki perempuan) kontrol demam dan 378 (168 vs 215 laki-laki perempuan) kontrol yang sehat . Konsumsi minuman es bermakna dikaitkan dengan demam enterik. Kurangnya toilet dalam rumah tangga juga dikaitkan dengan demam enterik. Kurang kebersihan mencuci tangan sebelum makan, termasuk penggunaan sabun yang kurang, secara bermakna dikaitkan dengan demam enterik, namun penggunaan sabun saat mencuci tangan setelah melewati bangku gagal untuk menunjukkan signifikansi.
Kejadian demam enterik di Jakarta masih terkait dengan makanan, terutama konsumsi minuman es. Ketentuan air minum yang aman, misalnya. keran air dari keran memiliki efek perlindungan. kebersihan dan sanitasi yang baik juga berperan dalam transmisi demam enterik di Jakarta.
SPONGIOFORM bovine encephalopathy (BSE) - PEMBANGUANAN Tsrnsk TERHADAP DAMPAK KEBIJAKAN DITINJAU Dari NASIONAL
(Bachtiar Moerad, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dirjen Bina Produksi Peternakan, Deptan RI)
Agen penyebab BSE atau lebih dikenal dengan Nama penyakit sapi gila ini adalah sejenis protein prion (Prion Protein / PrP) partikel menular atau protein. Penyakit ini termasuk penyakit degenerasi syaraf Yang Hebat pada sapi Dewasa dan fatal (penyakit saraf fatal). Dan digolongkan dalam penyakit menular Spongioform Encephalopathy (TSE), yaitu penyakit Yang menyerang susunan syaraf Pusat ditandai dengan gejala hispatologik Utama yaitu adanya degenerasi atau terbentuknya spongiosus Otak pada sel lubang-lubang kosong. Penularannya melalui Bahan baku pemberian pakan Ternak Yang terbuat Dari tepung Tulang dan Daging (daging dan tepung tulang / MBM) Penderita kepada hewan - hewan lain. Kejadian lebih banyak terjadi pada sapi perah karena cara pemberian pakan Yang menggunakan banyak MBM.
Gejala Umumnya adalah penurunan badan Produksi dan susu. Sedangkan gejala neurologisnya antara lain perubahan mental (ketakutan, gelisah, terkejut), perubahan sikap (ataksia, tremor, dapat bangun Jatuh apabila regular tidak, dan abnormalitas Bentuk tubuh), perubahan sensasi (hiperaestesia) rangsangan khususnya, suara dan rabaan. Produk sapi (ruminansia) Yang mengandung tingkat agen BSE dengan infektivitas Tinggi yaitu Otak, sumsum Tulang belakang dan mata. Tingkat infektivitas sedang Limpa yaitu, usus halus amandel, usus Besar, plasenta, dll. Sedangkan sapi infektivitas tingkat rendah contohnya perifer syaraf, hati, paru, pankreas, Tulang sumsum, dan mukosa hidung timus.
Penyebaran penyakit BSE di Dunia dalam kurun waktu 1986 Sampai 2003 Sudah menyebar di 24 Negara. Terakhir diperoleh data tahun 2003, BSE terdapat di Negara Kanada dan amerika Serikat. Volume impor sapi Daging Dari AS adalah 6,500 ton / tahun. Dampak meluasnya penyakit BSE di Dunia terhadap industri Daging di Indonesia, diantaranya adalah terbatasnya Negara pemasok Daging aman yang, Posisi Indonesia sebagai Negara pengimpor melemah. Selain itu Peluang bangkitnya industri Daging Negeri dan semakin memantapkan Posisi unggas Daging industri pendidikan nasional.
dalam hal ini pemerintah menetapkan kebijakan hal pencegahan masuknya penyakit BSE ke Indonesia Canada: kebijakan pengamanan maksimum (kebijakan keamanan maksimum), pembatasan impor hewan dan produknya, pelarangan penggunaan hewani dan konsentrat. Indonesia merupakan Negara Saat ini Yang Bebas Dari penyakit BSE Canada ditetapkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 367 Tanggal 12 Desember 2002 Tentang Pernyataan Negara Indonesia Tetap Bebas BSE. Status Negara Bebas BSE Aspek merupakan suatu bagian Yang dituntut perdagangan internasional. Upaya pemerintah mempertahankan status Bebas BSE diantaranya adalah berkoordinasi Karantina hewan Bea dan Cukai Serta, melanjutkan surveilan pengamatan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium, meningkatkan kemampuan SDM laboratorium Canada Pelatihan diagnosa laboratorium BSE, Kerjasama Depkes Artikel Baru melaui Kelompok kerja jangka pendek menular Spongioform ensefalopati (POKJA TSE) .
HASIL Diskusi
Berikut rangkuman Dari Diskusi seminar. ModeratorDiskusi adalah Dr Pratiwi Sudarmono, Sp.MK, PhD. Peserta memberikan komentar, Informasi dan Pertanyaan Diskusi adalah Ani Mulaningsih (Balitbangkes), Fauzi Suherman (Depkes, Sub Direktorat minuman makanan sanitasi dan kebersihan), Kusmayadi (UNPAD), Badan Litbang Pertanian Hortikultura, Prof Kapti Rahayu (UGM), Danayanti, dan Prof Roostita (UNPAD)
Informasi Yang berhubungan dengan Artikel keamanan Pangan di beberapa Lembaga
- Pengambilan sampel pada penelitian Yang dilakukan di Hanoi, Vietnam, dilakukan mengelompokkan jenis dan makanannya terlebih dahulu. Sedangkan di Indonesia sampel dibagi 3 jenis, nasi, ayam atau Daging, santan & sambal. Masing-masing diperiksa sebagai makanan kemudian dilakukan pengelompokan tunggal.
- Kendala Yang menyebabkan kegagalan penelitian Salmonella dengan sedikit sampel dan tidak representatif adalah keterbatasan biaya.
- Sampel gado-gado dalam penelitian Yang dilakukan di Bogor (IPB) karena tercemar Salmonella Dari penjaja makanan Yang umumnya regular tidak memperhatikan sanitasi dan kebersihan Produk yang dijajakannya .
- Sampel sayuran dalam penelitian Yang dilakukan di Daerah Bogor (IPB) diambil Dari Ciampea Bogor. Sumber cemaran Salmonella pada sayur berasal Dari udara untuk menyiram sayuran dan Buruh angkut sayur Yang Duduk Diatas sayur di bak mobil Terbuka pada Saat pengangkutan .
- Badan POM years 2003 telah melaksanakan program industri Pangan rumah Tangga untuk pendidikan nasional. Program ini melibatkan 26 balai POM, melatih petugas Dinas Kesehatan kabupaten / kota sebagai pengawas Pangan dan penyuluh,Juga melatih industri Pangan rumah Tangga . pada tahun mendatang diharapkan dapat menangani Kepemilikan Modal industri Pangan Siap saji, Bersama-sama P2MPL dan Instansi Berlangganan Lainnya.
- Menurut penelitiandi seluruh Dunia laki-laki lebih Sering terkena Salmonellosis , karena laki-laki lebih Sering bekerja dan makan di Luar rumah Yang tidak terjamin kebersihannya. Tetapi berdasarkan daya tahan tubuh Dari, wanita lebih berpeluang untuk terkena dampak komplikasi Dari Demam tifoid. Salah Satu Teori (hipotesis / asumsi) adalah Yang menunjukkan hal tersebut ketika Salmonella typhi Masuk ke sel-sel hati, hormon estrogen pada wanita Maka akan bekerja menangani 2 hal, sehingga menjadi lebih rendah dibanding laki-laki.
- Tindak Lanjut Dari kegiatan Yang dilakukan pada penelitian Kantin kampus-kampus dan Sekolah-sekolah adalah mendatangi kampus-kampus dan Sekolah-sekolah Yang Pernah diambil sampelnya untuk diberikan umpan balik sehingga Bisa Dibuat sebagai model untuk perbaikan Infrastruktur, dilakukannya Pelatihan-Pelatihan, dan lain- lain
- Produk susu aman terhadap BSE, sehingga Indonesia mengimpor Masih Dari Negara-Negara Yang tertular BSE.
- Penyusutan antara impor Daging Daging lokal:
o Umumnya Daging impor lebih murah
o Bertanya kepada pedagang (umumnya pedagang Jujur dalam hal ini),
o Warna Daging impor lebih kusam dan lebih segar Daging local.
- Dari nama yang merupakan bahan tertentu Yang menyebabkan risiko BSE, sehingga Apapun Yang berasal Dari Tulang disingkirkan Harus Dari rantai makanan dan pakan.
Saran-saran
- Usulan untuk Badan POM (Prof Winiati Pudji Rahayu) mengenai sumber cemaran biasanya berasal Dari sumber pangannya, cemaran sumber dapat diketahui Artikel Baru Juga melakukan survei terhadap Penderita FBD sehingga akan Bisa dilacak timbal balik Pangan APA Saja kemungkinan menjadi sumber cemaran yang.
- penerapan pada sanitasi industri Pangan terutama di tingkat industri rumah Tangga Kurang Baik, sehingga:
1. Badan POM diharapkan konsisten menyediakan Tentang pelaksanaan HACCP pada Pangan industri Yang berisiko Tinggi
2. pada standar Pangan, Juga perlu dicantumkan untuk Salmonella standar regular tidak mensyaratkan Hanya pada total plate count Saja.
3. Badan POM juga Membuat perencanaan penelitian yang mengacu pada data-data Yang Sudah ada untuk dilakukan di Daerah lain.
4. Pembentukan Jaringan (networking) Yang tidak terpisahkan di seluruh Wilayah di Indonesia
- Pemilihan topik materi presentasi untuk Lokakarya Jip selanjutnya disesuaikan dengan data-data Yang akan disampaikan sehingga data-data penelitian yang representatif Bisa melengkapi adalam penyusunan program.
dijelaskan:
1. kelemahan di Indonesia adalah tersedianya data regular Yang tidak cukup Baik Tentang Salmonella. Sehingga perlu dilakukan penelitian dan untuk mendapatkan data surveilan epidemiologi Yang Luas Wilayahnya lebih mencakup , Bila perlu mencakup seluruh Wilayah di Indonesia. hal ini tentunya akan tercapai Bila ada Peran Serta * Semua Jajaran Berlangganan (DEPKES) Baik komunitas maupun pengaturan di rumah sakit. Sehingga * Semua Lembaga Bisa menempatkan Diri dalam GSS program dan dapat Dibuat pemetaan yang tepat, data Dimana ini akan Bisa di Mungkinkan oleh Siapa Saja yang membutuhkan
2. Kelemahan-kelemahan ini tentunya Harus Segera ditindaklanjuti.
3. Perlunya dibahas lebih Lanjut Tentang Siapa Yang akan menverifikasi data-data Yang ada Tentang salmonella.
4. Perlu ditegakkannya regulasi Serta penegakan hukum, mengingat Sangat lemahnya Aspek ini terutama untuk penegakan hukum.
5. Perlunya Pendidikan Tentang Kesehatan di tingkat Komunitas Dini Secara lebih
TINDAK Lanjut AKTIVITAS INTELIJEN Jejaring Pangan
1. Pertemuan lanjutan
o Tempat: Ruang Aula Serbaguna Jl. Dipati Ukur, UNPAD Bandung
o julian: Bulan Juli 2004
o Usulan topik: zoonosis
2. Memaksimalkan kegiatan Jip dan menginformasikan kepada rekan-rekan lain Yang Belum dapat Hadir
3. Mengusulkan kepada masing-masing aktivitas untuk merencanakan Instansi Yang sesuai aktivitas Jip Artikel Baru
4. Pendidikan terhadap berbagai sektor pangan
5. Jejaring Promosi Keamanan Pangan akan banyak mengikuti aktivitas Jejaring Intelijen Pangan
RINGKASAN HASIL LOKAKARYA
Kelompok I
Moderator: Ir. Siti Muslimatun, MSc, PhD
Aktivitas:
· Menyusun Pokok-Pokok isi seminar menjadi Satu artikel
· Merencanakan strategi mengkomunikasikan / mempublikasikan artikel tersebut
· Menyempurnakan (mengedit) PENELITIAN abstrak-abstrak Yang telah diterima Panitia
· Menyusun abstrak-abstrak tersebut menjadi Bahan publikasi
Metode: Diskusi Partisipatif
Peserta:
1. Mukh. Arifin (UNDIP)
2. Tatang (Dit Gizi Masyarakat, Depkes)
3. Setia Murni (Badan POM)
4. Ruki F (Badan POM)
5. Roosatita (FAPET UNPAD)
6. Soegianto Ali (FKU Atmajaya)
7. Fauzi (Sub dit Makanan Makanan kebersihan dan sanitasi)
8. AA. Nyoman MN (Badan POM)
9. Sorta (Depkes)
10. Ellin Harlia (FAPET UNPAD)
11. Kusmajadi S (UNPAD)
12. Siti Muslimatun (SEAMEO)
13. Dwi Nastiti Iswarawanti (SEAMEO)
14. Nia N Wirawan (SEAMEO)
Disusun Oleh : Nye.Nyi (eRni) @ ichdie.blogspot.com
dikutip dari sumber : Badan POM RI
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO theproperty-developer

.jpg)





0 komentar:
Posting Komentar